Minggu, 06 Juni 2010

uang dan bank

Permintaan uang adalah kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai.Menurut Keynes, ada tiga (motif)alas an masyarakat memegang uang yakni :
a. Motif Transaksi (Transacton Motive)
Permintaan uang untuk transaksi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional.
b. Motif berjaga-jaga (Precautionary motive)
Motif ini juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka tingkat kesadaran terhadap masa depan akan semakin tinggi. Kondisi masa depan yang tidak menentu akan mendorong orang untuk melakukan motif ini. Hal tersebut akan membawa kebutuhan yang semakin tinggi akan perlunya uang untuk berjaga. Secara aggregate semakin tinggi pendapatan nasional, maka kebutuhan masyarakat terhadap uang untuk berjaga-jaga juga akan semakin tinggi.
c. Motif Spekulasi (Speculative Motive).
Arti spekulasi pada motif ini adalah spekulasi dalam pembelian dan penjualan surat-surat berharga. Motif ii dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Apabila tingkat suku bunga naik, maka harga surat-surat berharga akan turun. Jadi naiknya tingkat suku bunga akan menaikkan permintaan untuk spekulasi dan sebaliknya.

Jenis-Jenis Bank :

1. Bank Sentral

Bank sentral adalah bank yang didirikan berdasarkan Undang-undang nomor 13 tahun 1968 yang memiliki tugas untuk mengatur peredaran uang, mengatur pengerahan dana-dana, mengatur perbankan, mengatur perkreditan, menjaga stabilitas mata uang, mengajukan pencetakan / penambahan mata uang rupiah dan lain sebagainya. Bank sentral hanya ada satu sebagai pusat dari seluruh bank yang ada di Indonesia.

2. Bank Umum

Bank umum adalah lembaga keuangan uang menawarkan berbagai layanan produk dan jasa kepada masyarakat dengan fungsi seperti menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam berbagai bentuk, memberi kredit pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan, jual beli valuta asing / valas, menjual jasa asuransi, jasa giro, jasa cek, menerima penitipan barang berharga, dan lain sebagainya.

3. Bank Perkreditan Rakyat / BPR

Bank perkreditan rakyat adalah bank penunjang yang memiliki keterbatasan wilayah operasional dan dana yang dimiliki dengan layanan yang terbatas pula seperti memberikan kridit pinjaman dengan jumlah yang terbatas, menerima simpanan masyarakat umum, menyediakan pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, penempatan dana dalam sbi / sertifikat bank indonesia, deposito berjangka, sertifikat / surat berharga, tabungan, dan lain sebagainya.

A. Definisi dan Pengertian
Yang dimaksud kebijakan moneter adalah upaya mengendalikan / mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan mengatur jumlah uang yang beredar. Yang dimaksud kondisi yang lebih baik adalah meningkatnya output keseimbangan / terpeliharanya stabilitas harga (inflasi terkontrol). Melalui kebijakan moneter pemerintah dapat mempertahankan, menambah / mengurangi jumlah uang yang beredar dalam upaya mempertahankan kemampuan ekonomi bertumbuh, sekaligus mengendalikan inflasi.

Jika yang dilakukan adalah menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah dikatakan menempuh kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive). Sebaliknya, jika jumlah uang beredar dikurangi, pemerintah menempuh kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive). Istilah lain dari kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan uang ketat (tight money policy).

B. Instrument Kebijakan Moneter

Ada 3 instrument utama yang digunakan untuk mengatur jumlah uang yang beredar : Operasi pasar terbuka (open market operation), Fasilitas diskonto (discount rate), dan Rasio cadangan wajib (reserve requirment ratio). Di luar tiga instrument tersebut (yang merupakan kebijakan moneter bersifat kuantitatif), pemerintah dapat melakukan imbauan moral (moral persuation).

1. Operasi pasar terbuka (open market operation)
Adalah pemerintah mengendalikan jumlah uang yang beredar dengan cara menjual / membeli surat-surat berharga milik pemerintah (government securities). Jika mengurangi jumlah uang yang beredar, maka pemerintah menjual surat-surat berharga (open market selling). Dengan demikian uang yang ada dalam masyarakat mengalir ke otoritas moneter, sehingga jumlah uang yang beredar berkurang. Jika ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah membeli kembali surat-surat berharga tersebut (open market buying). Guna lebih mengefektifkan operasi pasar terbuka ini, Bank Indonesia telah mengembangkan kedua instrument tersebut dengan menambah fasilitas repurchase agreement (repo) kemasing-masing instrument, sehingga saat ini dikenal SBI repo / SBPU repo.
Di Indonesia, operasi pasar terbuka dilakukan dengan menjual / membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU). Jika ingin mengurangi jumlah uang yang beredar, pemerintah menjual SBI atau SBPU. Melalui penjualan SBI atau SBPU uang yang ada dalam masyarakat ditarik, sehingga jumlah uang yang beredar berkurang. Biasanya penjualan SBI/SBPU dilakukan bila jumlah uang yang beredar dianggap sudah mengganggu stabilitas perekonomian.
Bila pemerintah melihat jumlah uang yang beredar perlu ditambah, agar perbankan lebih mampu memberikan kredit yang akan memacu pertumbuhan ekonomi, maka SBI dan SBPU yang telah dijual dibeli kembali. Melalui pembelian itu pemerintah mengeluarkan uang sehingga menambah jumlah uang yang beredar.

2. Fasilitas Diskonto (discount rate)
Yang dimaksud tingkat bunga diskonto adalah tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah atas bank-bank umum yang meminjam ke Bank Sentral. Dalam kondisi tertentu, bank-bank mengalami kekurangan uang sehingga mereka harus meminjam kepada Bank Sentral. Kebutuhan ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, untuk mengurangi / menambah jumlah uang yang beredar.
Bila pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka pemerintah menurunkan tingkat bunga pinjaman (tingkat diskonto). Dengan tingkat bunga pinajaman yang lebih murah, maka keinginan bank-bank untuk meminjam uang dari Bank Sental menjadi lebih besar. Maka jumlah uang yang beredar menjadi lebih banyak. Sebaliknya jika ingin menahan laju pertambahan jumlah uang yang beredar, pemerintah menaikkan bunga pinjaman. Hal ini akan mengurangi keinginan bank-bank meminjam uang dari Bank Sentral, sehingga pertambahan jumlah uang yang beredar dapat ditekan.

3. Rasio Cadangan Wajib (reserve requirment ratio)
Penetapan rasio cadangan wajib juaga dapat mengubah jumlah uang yang beredar. Jika rasio cadangan wajib diperbesar, maka kemampuan bank memberikan kredit akan lebih kecil dibanding sebelumnya. Misalnya, jika rasio cadangan wajib mulanya hanya 10%, maka untuk setiap unit deposito yang diterima, perbankan dapat mengalirkan pinjaman sebesar 90% dari deposito yang diterima perbankan. Dengan demikian angka multiplier uang dari sistem perbankan adalah 10.
Untuk pertama kalinya sejak Pakto 1988, Bank Indonesia menggunkan rasio cadangan wajib guna mengerem pertumbuhan besar-besaran moneter yang masih tinggi yaitu dengan menetapkan rasio menjadi 3% pada Februari 1996. Sejak April 1997 besarnya rasio cadangan wajib adalah 5%.

4. Imbauan Moral (moral persuation)
Dengan imbauan moral, otoritas moneter mencoba mengarahkan / mengendalikan jumlah uang yang beredar. Misalnya, Gubernur Bank Indonesia dapat memberi saran agar perbankan berhati-hati dengan kreditnya atau membatasi keinginannya meminjam uang dari bank sental (berhati-hati menggunakan fasilitas diskonto).

C. Kebijakan Moneter dan Keseimbangan Ekonomi : Analisis IS – LM

Kebijakan moneter dikatakan efektif bila mampu mengendalikan tingkat output dan harga. Untuk mengevaluasi efektifitas kebijakan moneter, peralatan analisis yang paling sederhana namun komprehensif adalah kurva IS – LM.

1. Pengaruh Kebijakan Moneter Terhadap Keseimbangan Pasar Uang – Modal
Pengaturan jumlah uang beredar dapat mempengaruhi kondisi keseimbangan pasar uang – modal. Diagram 13.1 memberikan gambaran apa yang terjadi terhadap keseimbangan pasar uang – modal bila jumlah uang beredar ditambah.
Diagram 13.1 menunjukan kurva LM0 yang diturunkan adalah M0S. Seandainya pemerintah menambah jumlah uang yang beredar menjadi setingkat M1S pada diagram 13.1.a, maka untuk membuat pasar uang – modal berada dalam keseimbangan pada tingkat Y0, tingkat bunga harus diturunkan dari r1 ke r3. Demikian juga bila ingin membuat pasar uang – modal berada dalam kondisi keseimbangan pada tingkat Y1, tingkat bunga juga harus diturunkan dari r2 ke r4. Dalam Diagram 13.1.b hal itu terlihat lari pergeseran titik keseimbangan (dari F1 ke F3 dan dari F2 ke F4), sehingga kurva LM bergeser ke kanan (dari LM0 ke LM1).
Seandainya pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar dari M0s ke M2s, maka untuk membuat pasar uang modal berada dalam keseimbangan pada tingkat Y0 tingkat bunga harus dinaikkan dari r1 ke r5. Sedangkan untuk mencapai keseimbangan pada tingkat Y1, tingkat bunga harus dinaikkan dari r2 ke r6. Kurva LM bergeser ke kiri dari LM0 ke LM2)

2. Pengaruh Kebijakan Moneter Terhadap Keseimbangan Ekonomi
Pergeseran kurva LM karena pengaruh perubahan jumlah uang yang beredar yang dilakukan pemerintah akan mempengaruhi keseimbangan ekonomi, karena mengubah titik potong kurva IS – LM, yang berarti mengubah titik keseimbangan ekonomi. Diagram 13.2 menunjukan kondisi keseimbangan awal terjadi pada tingkat pendapatan Y0 dan tingkat bunga r0. Jika pemerintah menambah jumlah uang beredar, kurva LM bergeser ke kanan (dari LM0 ke LM1), sehingga titik keseimbangan juga bergeser dari E0 ke E1. Pada titik keseimbangan yang baru (E1), output keseimbangan adalah Y1 yang lebih besar daripada Y0, sedangkan tingkat bunga adalah r1 yang lebih rendah daripada r0. Dengan kata lain, kebijakan moneter ekspansif dalam diagram 13.2 telah berhasil mamacu pertumbuhan ekonomi dan menurunkan tingkat bunga. Dalam perekonomian pasar, kenaikan tingkat bunga mengindikasikan telah terjadinya kelebihan permintaan investasi.

Akibatnya dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu :
- Sisi output
Kenaikan tingkat bunga akan menyebabkan ada beberapa rencana investasi yang dibatalkan, sebagai akibatnya pertambahan kapasitas produksi menjadi lebih kecil.
- Sisi biaya
Kenaikan tingkat bunga akan menaikkan biaya produksi dikarenakan naikknya biaya modal.
Dari kedua hal di atas, akibatnya kenaikan tingkat bunga akan memicu terjadinya inflasi.
Bila pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar, yang terjadi adalah sebaliknya bergesernya kurva LM ke kiri (dari LM0 ke LM2) menyebabkan titk keseimbangan bergeser ke E2. Pada saat itu output keseimbangan adalah Y2 yang lebih kecil, sedangkan tingkat bunga naik (dari r0 ke r2) yang berarti telah terjadi inflasi.

D. Efektifitas Kebijakan Moneter

Secara grafis hasil kebijakan moneter pemerintah sangat ditentukan oleh kondisi pasar barang jasa dan pasar uang modal, yang digambarkan oleh sudut kemiringan kurva IS dan kurva LM.
1. Sudut kemiringan kurva IS
Diagram 13.3 merupakan himpunan kurva IS yang menggambarkan beberapa kondisi pasar barang dan jasa.
Kurva IS1 lurus sejajar dengan sumbu vertikal. Kurva IS yang seperti ini terjadi karena permintaan investasi tidak sensitif terhadap perubahan tingkat bunga (kurva I tegak lurus). Sebaliknya kurva IS2 terbentuk dari kurva I yang mendatar sejajar dengan sumbu horizontal. Artinya kurva investasi elastis sempurna. Sedangkan kurva IS3 terbentuk dari kurva investasi yang bersudut negatif.

2. Sudut kemiringan kurva LM
Diagram 13.4.a menunjukan beberapa kurva LM yang menggambarkan beberapa kondisi pasar uang – modal.
Kurva LM1 berbentuk tegak lurus sejajar sumbu vertikal. Kurva ini diturunkan dari kurva permintaan uang untuk spekulasi (Msp) yang tegak lurus. Oleh karena kurva LM1 sesuai dengan hipotesis Klasik, maka kurva ini disebut kurva LM versi Klasik.
Kurva LM3 datar dan sejajar dengan sumbu horizontal. Menurut Keynes, kondisi ini disebut sebagai perangkap likuiditas dan biasanya terjadi pada tingkat bunga yang sangat rendah. Kurva ini disebut kurva LM versi Keynesian.

3. Berbagai Kemungkinan Hasil Kebijakan Moneter
Evaluasi terhadap efektifitas kebijakan moneter dapat dilakukan dengan melihat titik potong kurva IS dan Lm. Karena kurva IS dan LM masing-masing memiliki minimal 3 kondisi, maka minimal ada 9 kombinasi titik potong kurva IS – LM. Dari 9 kombinasi tersebut, 2 diantaranya tidak terdefinisikan. Yang pertama adalah titik potong antara kurva IS mendatar (IS2) dengan kurva LM mendatar (LM3). Yang kedua adalah titik potong antara kurva IS tegak lurus (IS1) dengan kurva LM tegak lurus (LM1).
Diagram 13.5.a dan 13.5.b kondisinya adalah kurva Lm vertikal. Kurva 13.5.a menunjukan jika kurva IS datar, kebijakan moneter sangat efektif sebab dapat menambah / mengurangi output keseimbangan tanpa mengganggu tingkat harga. Diagram 13.5.b menunjukan jika kurva IS memiliki slope negatif. Kebijakan moneter ekspansif akan menaikan output keseimbangan dan tingkat harga turun. Kebijakan moneter kontraktif akan menurunkan output keseimbangan dan tingkat harga akan naik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar